UPDATE INFO PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
Rayakan Hari Buku Nasional: Meneladani Jejak Literasi dan Legacy Dr. Hj. Enny Hidajati, S.S., M.M., di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Bina Darma.
Tuesday, 19 05 2026
Rayakan Hari Buku Nasional: Meneladani Jejak Literasi dan Legacy Dr. Hj. Enny Hidajati, S.S., M.M., di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Bina Darma.
Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas), Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia mengajak mahasiswa untuk memperkuat budaya membaca dan menulis sebagai bagian dari penguatan literasi akademik dan pengembangan diri. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Dr. Hj. Enny Hidajati, S.S., M.M., dalam sebuah wawancara eksklusif, beliau membagikan perjalanan panjangnya di dunia kepenulisan yang telah terpupuk sejak kecil melalui perpustakaan pribadi sang ayah. Meski sempat vakum, gairah menulis beliau kembali memuncak saat pandemi COVID-19 setelah bertemu dengan berbagai komunitas penulis. Beliau menegaskan bahwa kemampuan menulis bukanlah bakat bawaan semata, melainkan keterampilan yang dapat dilatih oleh siapa saja.
“Semua orang bisa menulis
selama mereka bisa membaca dan bercerita. Yang terpenting adalah berani memulai
dari hal sederhana,” ujarnya.
Dengan
memberi dorongan kepada mahasiswa untuk mengembangkan ide tulisan dari
pengalaman sehari-hari. Berbagai catatan sederhana seperti voice note, status
media sosial, hingga peristiwa kecil dalam kehidupan dapat dikembangkan menjadi
karya tulis yang bermakna. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa menulis juga
berfungsi sebagai sarana rekreasi sekaligus pelepas stres di tengah kesibukan
akademik. Untuk menjaga produktivitas, ide-ide tulisan disimpan dalam “bank
ide” agar dapat diolah kembali di waktu yang lebih senggang.
Produktivitas beliau dalam dunia literasi dibuktikan dengan torehan 58 buku yang telah terbit, terdiri dari 54 buku antologi dan 4 buku solo. Di tengah padatnya aktivitas sebagai motivator dan trainer, beliau tetap konsisten menjaga ritme menulis sebagai bentuk pelepasan stres (stress relief) dan kebutuhan hidup. Di antara berbagai karyanya, terdapat empat buku solo yang menjadi catatan sejarah perjalanannya, yakni kumpulan puisi "Embusan Anginmu", kumpulan cerpen "Lelaki Penari", kumpulan tulisan keluarga "Mata-Mata Cinta", serta kumpulan kata berhikmah "Dalam Rasa yang Berpendaran". Dari semua karya tersebut, buku puisi "Embusan Anginmu" memiliki ikatan emosional paling kuat karena merupakan karya perdana yang diterbitkan secara mandiri.
Di tengah kesibukan menempuh studi S3 dalam tiga tahun terakhir, beliau mengakui adanya penyesuaian skala prioritas. Namun, beliau memiliki strategi unik dengan menyediakan "bank ide" untuk menampung inspirasi yang datang tiba-tiba. Bagi beliau, menulis bukan lagi beban pekerjaan, melainkan sarana pelepasan stres (stress relief).
"Menulis itu rekreasi. Di antara puisi, cerpen, dan
artikel, buku solo pertama berisi 70 puisi tetap menjadi yang paling berkesan
di hati karena itulah karya perdana yang diterbitkan secara mandiri,"
ungkap beliau.
Sebagai pakar bahasa, beliau membagikan tips teknis bagi
para calon penulis. Beliau menyarankan penggunaan "otak kanan" untuk
fokus menuangkan ide tanpa gangguan penyuntingan di awal. Proses self-editing
menggunakan "otak kiri" baru dilakukan setelah naskah diendapkan
selama satu hari agar hasil lebih tajam dan rapi sesuai kaidah PUEBI/EYD.
Menanggapi era digital, beliau berpesan agar mahasiswa tidak meninggalkan buku fisik. Menurut beliau, aktivitas menyentuh kertas dan mencoretkan catatan memberikan memori yang lebih kuat dibandingkan membaca lewat layar yang cenderung mudah terlupakan. Beliau juga mematahkan mitos bahwa menulis hanya untuk mereka yang berbakat. "Niat dan keinginan itu sudah 50% keberhasilan. Mengarang itu gampang; apa yang kita bicarakan di voice note atau status media sosial bisa menjadi karya utuh jika ada kemauan," tambah beliau.
Bagi beliau, menulis adalah cara seorang pendidik melampaui batas waktu kelas. Jika penjelasan lisan akan hilang seiring bergantinya generasi, maka tulisan berfungsi mengkristalkan hikmah agar tetap abadi. Melalui tulisan, seseorang dapat mewariskan pemikiran yang kemanfaatannya terus dinikmati oleh generasi mendatang sebagai sebuah legacy.
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12 Plaju Palembang, Sumatera Selatan, 30264
universitas@binadarma.ac.id